Renungan Harian
06 Jul – 12 Jul 2026
KELIMPAHRUAHAN CINTA ALLAH
MATIUS 13:1-9, 18-23
Dalam KBBI kelimpahruahan berarti keadaan melimpah ruah, melimpah banyak sekali, berlebih-lebih, berlimpah-limpah. Dalam hal apa kelimpahruahan ini?
Pertama, kelimpahruahan yang dimaksud adalah karunia untuk mengetahui rahasia-rahasia Kerajaan Surga. Karunia ini diberikan kepada murid-murid, kepada kita yang punya jiwa dan karakter murid, kepada kita yang tekun belajar dan menyelesaikan pendidikannya (bdk. Lukas 6:40). Dalam bahasa Yesaya 50:4, kepada murid yang mau dipertajam pendengarannya oleh Tuhan untuk membuka telinga dan mendengarkan (listen) Tuhan sebagai gurunya. Bukankah kelimpahan jika kita mengetahui rahasia-rahasia Kerajaan Surga?
Kedua, kelimpahruahan untuk orang yang mempunyai telinga, gigih mendengarkan serta berjuang untuk mengerti. Dalam bahasa perumpamaan, untuk setiap orang yang mau menjadi tanah yang baik, yaitu orang yang mendengar firman dan mengerti. Kata mendengar diterjemahkan dari kata Yunani akouon dengan kata dasar akouo yang artinya bukan hanya mendengar sambil lalu (to hear), tetapi mendengarkan dengan seksama dan penuh perhatian, sehingga mengerti, sekaligus meresapkan atau memasukkan dalam hati. Kata ini dapat juga diartikan merekam dan menggemakan kembali firman Tuhan yang didengarkannya. Ingat, ini bukan mendengarkan demi pemuasan keinginan telinga diri sendiri (bdk. 2 Timotius 4:3). Di sini yang perlu diwaspadai adalah diri kita sendiri sebagai pendengar. Sebab kelimpahruahan berbeda dengan pemuasan diri sendiri.
Ketiga, kelimpahruahan karena Sang Penabur sendiri adalah Tuhan Yesus. Dalam Matius 7:29, disebutkan bahwa Sang Penabur menyampaikan pengajaran firman sebagai orang yang berkuasa. Sang Penabur memberitakan firman dengan berkualitas, tidak asal-asalan. Sang Penabur menabur dan sekaligus menghidupi firman yang ditabur-Nya.
Yang ditabur adalah firman Allah (bdk. Lukas 8:11) atau firman Kristus (bdk. Roma 10:17). Sang Penabur kualitasnya berbobot dan bernas; yang ditabur adalah bibit yang berkualitas. Yang perlu diperhatikan saat ini adalah kemampuan kita membedakan yang ditabur itu firman Allah atau hanya kata-kata motivasi yang memuaskan telinga. Sebab firman Allah bisa melukai kita karena kebenaran-Nya dan sekaligus tidak pernah menghibur dan menguatkan kita dengan kebohongan.
Di sini yang perlu diwaspadai adalah kita sebagai penabur benih firman Tuhan, apakah kita menabur benih firman sebagai kewajiban rutin dan karena terjadwal serta dijadwalkan atau karena memang kita pun belajar dan menekuni untuk menggali benih firman Tuhan sebaik mungkin dan sesuai dengan kehendak-Nya. Yakinlah kelimpahruahan yang dikaruniakan kepada kita melalui pendengaran firman-Nya adalah kelimpahruahan cinta Allah sendiri yang telah menjadi firman dan yang berfirman kepada kita.
Dengarkanlah Tuhan dan firman-Nya bukan untuk memuaskan jiwa kita, tetapi untuk menyenangkan Nya dan menikmati cinta-Nya. Amin. [TMP]